KEBAHASAAN TEKS CERITA SEJARAH BAHASA INDONESIA
KEBAHASAAN TEKS CERITA SEJARAH BAHASA INDONESIA
KELAS XII
PETA KONSEP


PENDAHULUAN
A. Identitas Modul
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas XII
Alokasi waktu : 4 X 45 menit
Judul Modul : Kebahasaan dalam Teks Sejarah
B. Kompetensi Dasar
3. 4 Menganalisis kebahasaan cerita atau novel sejarah
4. 4 Menulis cerita sejarah pribadi dengan memerhatikan kebahasaan
C. Deskripsi Singkat Materi
Selamat bertemu kembali. Kalian telah mempelajari modul dengan materi informasi dalam teks cerita sejarah, bukan? Semoga pembelajaran tentang teks tersebut mengasikkan, dan pada modul ini masih membahas kebahasaan teks cerita sejarah. Namun dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kalian tetap menjaga protokol kesehatan agar kalian terhindar dari wabah Covid 19 yang melanda dunia termasuk Indonesia. Hanya dengan kondisi sehat kalian akan dapat mempelajari modul ini dengan baik pula. Sudah siapkah kalian?
Kali ini kalian akan melanjutkan pembelajaran sebelumnya. Pada pembelajaran pertama kalian akan mempelajari kaidah kebahasaan teks tersebut. Kemudian pada pembelajaran selanjutnya kalian akan menulis teks sejarah pribadi. Tetap semangat ya, kalian pasti bisa.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul pada kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan kalian dapat menganalisis kebahasaan teks cerita sejarah dengan kritis, cermat, dan bertanggung jawab agar kalian memiliki pemahaman tentang aturan atau kaidah kebahasaan yang harus ada pada teks cerita sejarah dengan benar.
B. Uraian Materi
Kalian masih berada pada modul teks kedua pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XII yaitu teks cerita sejarah. Baru saja kalian mempelajari informasi yang ada pada teks cerita sejarah. Pasti di antara kalian sudah memahaminya bukan? Masih pada jenis teks yang sama namun yang akan kalian pelajari sekarang adalah kaidah kebahasaan teks cerita sejarah yang tentunya akan berbeda dari kaidah kebahasaan teks lain. Kalian akan dapat memiliki gambaran ciri khas bahasa dalam teks cerita sejarah. Menarik bukan? Apa sebenarnya kaidah kebahasaan teks cerita sejarah dan bagaimana serunya menganalisis kekhasan kaidah bahasa semua ada di modul ini.
Penanda kekhasan bahasa yang digunakan dalam karya sastra pada umumnya adalah menggunakan bahasa konotatif dan emotif. Hal ini berbeda dengan bahasa ilmiah yang denotatif dan rasional. Meskipun demikian, bahasa dalam cerita sejarah tetap mengacu kepada bahasa yang digunakan masyarakat (konvensional) agar tetap dipahami oleh pembacanya. Penggunaan bahasa konotatif dan emotif diwujudkan pengarang dengan merekayasa bahasa dengan menggunakan beragam gaya bahasa, pencitraan, dan beragam pengucapan
1. Kaidah Kebahasaan
a. Menggunakan Kalimat Bermakna Lampau
Kalimat yang bermakna lampau ditandai dengan kata=kata yang menyatakan bahwa kalimat tersebut sudah selesai. Hal tersebut ditandai dengan penggunaan kata telah, sudah, terbukti dan lain-lain.
Contoh:
• Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersihkan gedung bekas asrama telah menyelesaikan tugasnya.
• Dalam banyak hal, Gajah Mada bahkan sering mengemukakan pendapat- pendapat yang tidak terduga dan membuat siapa pun yang mendengar akan terperangah, apalagi bila Gajah Mada berada di tempat berseberangan yang melawan arus atau pendapat umum dan ternyata Gajah Mada terbukti berada di pihak yang benar
b. Menggunakan Kata yang menyatakan Urutan Waktu
Kalimat tersebut menggunakan konjungsi kronologis atau temporal. Terlihat pada penggunaan kata seperti: sejak saat itu, setelah itu, mula mula, kemudian.
Contoh
• Mula-mula pertikaian berkisar pada kelakuan Trenggono yang begitu sampai hati membunuh abangnya sendiri, kemudian diperkuat ...
• Setelah juara gulat itu pergi Sang Adipati bangkit dan berjalan tenang• tenang masuk ke kadipaten.
c. Menggunakan kalimat Tak Langsung
Penggunaan kalimat tak langsung sebagai upaya untuk menceritakan tuturan seorangtokoholehpengarang.Ditandai dengan penggunaan kata mengatakan bahwa, menceritakan tentang, menurut, mengungkapkan, menanyakan, menyatakan, atau menuturkan.
Contoh
• Mengapa Sultan tak menyatakan sikap menentang usaha Portugis ...?
• Riung Samudera menyatakan bahwa ia masih bingung dengan semua penjelasan Kendit Galih tentang masalah itu.
• Menurut Sang Patih, Galeng telah periksa seluruh kamar Syahbandar clan ia telah melihat banyak botol clan benda-benda yang ia tak tahu nama clan gunanya
d. Menggunakan Kata Kerja (verba) Mental
Kata kerja ini merupakan jenis kata kerja yang mengekspresikan respons atau sikap seseorang terhadap suatu tindakan, keberadaan, atau pengalaman. Kata kerja mental juga disebut sebagai verba tingkah laku atau kata kerja behavioral yang menggambarkan perilaku atau tindakan seseorang ketika menghadapi keadaan tertentu.Kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh.
Contoh
• Jawaban itu mengecewakan para musafir.
• Gajah Mada sependapat dengan jalan pikiran Senopati Gajah Enggon.
• Melihat itu, tak seorang pun yang menolak karena semua berpikir Patih Daha Gajah Mada memang mampu clan layak berada di tempat yang sekarang ia pegang.
e. Menggunakan Kata Kerja (verba) Material
Kata kerja material adalah kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan perbuatan fisik atau peristiwa. Kata kerja material ini menunjukkan subjek melakukan sesuatu perbuatan. Karena perbuatannya bersifat material sehingga dapat dilihat atau kasad mata. Kata-kata yang digunakan seperti Berlari, menulis, melempar, tersenyum, menagis dan sebagainya.
Contoh
• Pada suatu kali, kaki kuda Demak akan mengepulkan debu di seluruh bumi Jawa.
• Dan sebagai patih, ia masih tetap memimpin pasukan gajah, maka Kala Cuwil tak juga terhapus dalam sebutan.
• Sang Adipati telah menjatuhkan titah: kapal-kapal Tuban mendapat perkenan untuk berlabuh dan berdagang di Malaka ataupun di Pasai.
f. Mengunakan Kalimat Langsung
Hal ini ditandai banyaknya kalimat langsung atau dialog.
Contoh
"Mana surat itu?"
''Ampun, Gusti Adipati, patik takut maka patik bakar:' "Surat apa, Nyi Gede, lontar ataukah kertas?"
"Lon... Ion... Ion... kertas barangkali, Gusti, patik tak tahu namanya. Bukan lontar:' "Bukankah bukan hanya surat saja telah kau terima? Adakah real Peranggi pernah kau terima juga?"
''Ada, Gusti real mas, Patik mohon ampun, karena tiada mengetahui adakah itu real Peranggi atau bukan:'
g. Menggunakan Kata Sifat untuk Menggambarkan Tokoh, Tempat, atau Peristiwa. Kalimat ini menggunakan kata-kata seperti prihatin, khawatir, wibawa dan lain-lain. Contoh
• Pangeran Seda Lepen? Orang menunggu dan menunggu dengan perasaan
prihatin terhadap keselamatan wanita tua itu.
• Gajah Mada mempersiapkan diri sebelum berbicara clan menebar pandangan mata menyapu wajah semua pimpinan prajurit, pimpinan dari satuan masing-masing. Dari apa yang terjadi itu terlihat betapa besar wibawa Gajah Mada, bahkan beberapa prajurit harus mengakui wibawa yang dimiliki Gajah Mada jauh lebih besar dari wibawa Jayanegara.
2. Penggunaan Makna Kias
a. Ungkapan
Selain menggunakan bahasa dengan kaidah kebahasaan seperti diuraikan di atas, novel sejarah juga banyak menggunakan kata atau frasa yang bermakna kias. Kata atau frasa bermakna kias ini digunakan penulis untuk membangkitkan imajinasi pembaca saat membacanya serta memperindah cerita.
Contoh
• Di antara para Ibu Ratu yang terpukul hatinya, hanya Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang bisa berpikir sangat tenang.
Terpukul hatinya artinya sangat sedih.
• Mampukah Cakradara menjadi tulang punggung mendampingi istrinya menyelenggarakan pemerintahan?
Tulang punggung artinya sandaran, sumber kekuatan
• Di sebelahnya, Gajah Mada membeku.
Membeku artinya diam saja.
b. Peribahasa
Selain menggunakan kata atau frasa bermakna kias, novel sejarah juga banyak menggunakan peribahasa, baik yang berbahasa daerah maupun berbahasa Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperkuat latar waktu clan tempat kejadian cerita.
Contoh
Hidup rakyat Majapahit boleh dikata gemah ripah loh jinawi kerta tata raharja, hukum ditegakkan, keamanan negara dijaga menjadikan siapa pun merasa tenang clan tenteram hidup di bawah panji gula kelapa.
Peribahasagemah ripah loh jinawi kerta tata raharja merupakan peribahasa Jawa, yang artinya hidup makmur aman tenteram.
3. Analisis Kebahasaan Teks Cerita Sejarah
Baiklah kalian mengetahui bagaimana kaidah kebahasaan teks cerita sejarah. Apabila sudah memahaminya kalian akan berlatih bagaimana kenganalisis kaidah kebahasaan. Namun sebelumnya bacalahlah dengan saksama teks cerita sejarah berikut!
…. ''Apakah Tuan sudah bermaksud melawan pemerintah?"
Karena aku tahu inisiatifnya takkan berjalan tanpa rnmusan dan tanda tanganku, aku hadapi dia dengan cadangan.
"Kalau perintah itu diberikan padaku setelah predikat 'tenaga ahli' itu dicabut oleh Gubermen, aku akan lakukan dengan segera, Tuan. Kalau tidak, aku masih punya hak untuk menolak:'
Mukanya jadi kemerah-merahan karena berang. Ya, ya, kau akan kupermain mainkan, Tuan. Mari kita lihat siapa yang akan lebih tahan.
Tetapi, ia tak mendesak lagi dan pergi dengan bersungut-sungut. Notanya datang lagi, isinya bernada curiga terhadap aku sebagai simpatisan salah sebuah dari organisasi- organisasi tersebut.
Jelas dia belum kenal siapa Pangemanann. Sekali orang bernama Pangemanann ini jadi Algemeene Secrerie, takkan mudah orang dapat mengisarkan sejengkal pun dari tempatnya. Aku simpan baik-baik nota itu dan tak kujawab.
Sekarang datang waktunya ia akan mencari-cari kesalahan. Mulailah aku mengingat- ingat secara kronologis pekerjaanku sejak 1912 sampai masuk ke tahun 1915. Hanya ada satu hal yang bisa digugat: analisa dangkal tentang naskah-naskah Raden Mas Minke yang aku anggap tidak berharga. Naskah•naskah itu aku simpan di rumah untuk jadi milik pribadi. Maka analisis yang kurang bersungguh-sungguh itu mungkin memberi peluang untuk menuduh aku menyembunyikan sesuatu pendapat atau kenyataan.
Apa boleh buat, aku akan tetap berkukuh naskah-naskah itu lebih bersifat pribadi daripada umum. Dan aku katakan naskah itu telah dibakar langsung di kantor dalam tong kaleng kecil di kamarku. Walau begitu aku harus bersiap•siap.
Pidato Sneevliet mulai bermunculan dalam terjemahan Melayu, dalam terbitan koran- koran di Sala, Semarang, Madiun, Surabaya. Juga pidato-pidato Baars yang mampu berbahasa Melayu dan Jawa dengan fasih. Tapi, koran-koran Jawa Barat dan Betawi tampaknya tenang-tenang saja. Pengaruhnya mulai menjalari panggung pribumi. Tampaknya pengaruhnya dapat diibaratkan sebuah roda. Sekali orang mengenal dan menggunakannya, dia lantas jadi bagian dari kehidupan.
Dalam pertunjukkan langsung di Sala, jelas benar pengaruh ini bekerja. Lakon yang dimainkan kala itu adalah Surapati. Setelah beberapa minggu berlalu, ternyata pemain peran utama sebagai Surapati adalah orang yang itu•itu juga: Marco.
Secara khusus kusiapkan bagan peta pengaruh. Dalam waktu seminggu dapat kulihat, bahwa pengaruh itu laksana lelatu yang memercik dan meletik•letik ke kota-kota pelabuhan di Jawa Tengah dan Timur, memasuki pedalaman dan memerciki wilayah- wilayah pabrik gula-semua wilayah pabrik gula.
Dewan Hindia telah meminta pada Gubernur Jenderal, demikian yang kudengar dari omongan orang agar tenaga-tenaga kepolisian yang sudah mulai berpengalaman dalam mengawasi kegiatan politik pribumi ditetapkan kedudukannya untuk mengurusi soal ini. Kepolisian setempat yang telah mengambil inisiatif untuk pekerjaan ini supaya diberi pengukuhan, badan koordinasi supaya dibentuk untuk membantu pembentukan seksi khusus ini. Dasar dari permintaan itu adalah kegiatan politik Pribumi yang semakin menanjak dengan semakin melonggarkan hubungan antara Kerajaan dengan Hindia. Kalaupun ada rencana mengirim bantuan militer dari Kerajaan tak mungkin bisa diharapkan dalam situasi Perang Dunia. Maka juga Angkatan Perang Hindia seyogianya diperbesar untuk dapat menghadapi segala kemungkinan.
(Toer, Pramoedya Ananta. 2006. Rumah Kaea. Jakarta: Lentera Dipantara, Halaman 387-393).
Analisislah kaidah penggunaan bahasa teks Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir
Kaidah Kebahasaan Kutipan Keterangan
Menggunakan kalimat Dan aku katakan naskah itu telah telah dibakar
bermakna lampau. dibakar langsung di kantor dalam tong kaleng kecil di
kamarku.
Menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu. Mulailah aku mengingat-ingat secara kronologis pekerjaanku sejak 1912 sampai masuk ke tahun 1915. Mulailah….sampai
Menggunakan Dalam waktu seminggu dapat bahwa
kalimat tak langsung. kulihat, bahwa pengaruh itu
laksana lelatu yang memercik dan
meletik•letik ke kota-kota
pelabuhan di Jawa Tengah dan
Timur, memasuki pedalaman dan
memerciki wilayah-wilayah pabrik
gula-semua wilayah pabrik gula.
Menggunakan kata kerja (verba) mental Dasar dari permintaan itu adalah kegiatan politik Pribumi yang semakin menanjak dengan semakin melonggarkan hubungan antara Kerajaan
dengan Hindia. semakin menanjak
semakin melonggarkan
Menggunakan Kata Kerja (verba) Material Dan aku katakan naskah itu telah dibakar langsung di kantor dalam tong kaleng kecil di kamarku. dibakar
Menggunakan kalimat langsung ''Apakah Tuan sudah bermaksud melawan pemerintah?"
"Kalau perintah itu diberikan
padaku setelah predikat 'tenaga
ahli' itu dicabut oleh Gubermen,
aku akan lakukan dengan
segera, Tuan. Kalau tidak, aku
masih punya hak untuk
menolak:'
Menggunakan kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau
peristiwa Tidak ada
A. Rangkuman
1. Kaidah kebahasaan teks cerita sejarah meliputi menggunakan kalimat bermakna lampau, menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu, menggunakan kalimat tak langsung, menggunakan kata kerja (verba) mental, menggunakan kata kerja (verba) material, menggunakan kalimat langsung, dan menggunakan kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau peristiwa.
2. Penggunaan makna kias berupa penggunaan unkapan dan peribahasa.
3. Kegiatan analisis kebahasaan adalah kegiatan analisis terhadap kaidah kebahasaan dan analisis terhadap penggunaan makna kata yaitu ungkapan dan peribahasa.
B. Penugasan Mandiri
Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir
Sejarah danau Toba dan pulau Samosir juga tak pernah lepas dari cerita rakyat yang beredar. Sampai saat ini cerita rakyat itu sudah menjadi legenda dan bahkan tidak sedikit yang membuat dokumentasi melalui film tentangnya. Legenda ini begitu masyhur sehingga dijaga dengan baik oleh anak turun yang tinggal disekitar danau Toba. Boleh dipercaya boleh tidak karena sejarah danau Toba ini termasuk ke dalam ciri khas adat dan budaya masyarakat danau Toba dan sekitarnya. Tak ada yang bisa menceritakan detail asli ceritanya karena memiliki banyak versi. Namun, seluruhnya berawal dari seorang nelayan bernama Toba, putri ikan, dan anaknya Samosir.
Dahulu sebelum menjadi danau Toba, wilayah tersebut merupakan sebuah desa yang asri dengan sungai dan sawah sebagai media pencaharian masyarakatnya. Kehidupan yang sederhana begitu tampak dari masyarakat wilayah tersebut tak terkecuali bagi seorang petani bernama Toba. Hidupnya sederhana dan penuh dengan rasa syukur dalam kesehariannya meskipun diketahui mata pencahariannya hanya sebagai petani dan nelayan kecil di sungai. Suatu hari dia pergi ke sungai dengan harapan memperoleh ikan yang banyak untuk dijual dan dijadikan lauknya untuk makan. Tak seperti biasanya pada hari itu dia begitu kesulitan untuk mendapatkan ikan. Dia tetap bersabar mencari ikan hingga langit menunjukkan waktu sore hari sehingga dia memtuskan untuk pulang. Akan tetapi sesaat sebelum pulang dia merasaka bahwa kailnya bergerak dengan begitu kuat. Semangatlah dia untuk mendapatkannya karena berfikir akan mendapatan hasil tangkapan yang besar. Benar saja tak lama kemudian muncul ikan koi berwarna kuning keemasan yang elok lagi besar. Kemudian dibawalah hasil makanan tersebut ke rumahnya untuk dijadikan makanan.
Saat ingin memasak makanan dia mengambil ikan itu, akan tetapi saat ingin mengambil ikan tersebut dia merasa iba dan kasihan dengan paras ikan ini. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan makan dengan lauk seadanya. Tak lupa dia memberikan makan untuk ikan itu juga. Keanehan terjadi saat pagi hari karena dia sudah tidak mendapati ikan di bejana namun banyak makanan yang tersedia diatas meja. Penasaran dia pun akhirnya terkaget dengan perempuan yang sedang berada di dapurnya. Belum sampai kagetnya hilang wanita tersebut mengaku sebagai jelmaan dari ikan yang telah ditangkapnya dna merupakan seorang putri ikan. Setelah tenang barulah Toba menanyakan kejelasan asal usul wanita tersebut. Singkat cerita mereka berdua saling jatuh cinta karena sering bersama. Akhirnya Toba menikahi putri ikan tersebut dengan
syarat bahwa Toba tidak boleh menceritakan asal usul putri ikan kepada orang lain termasuk anaknya.
Toba dan putri ikan hidup bahagia dengan cara yang sederhana. Meskipun putri ikan bisa menghasilkan emas dari sisiknya akan tetapi Toba tidak ingin berharap dari hasil tersebut. sekuat tenaga dia bekerja untuk menghidupi keluarganya. Sampai suatu ketika dia telah memiliki seorang pemuda yang bernama Samosir. Sayangnya Samosir termasuk anak yang hiperaktif dan susah diatur sehingga seringkali membuat masalah baik kepada keluarganya maupun penduduk sekitarnya. Akan tetapi Toba dan putri ikan tetap sabar untuk menghadapi anaknya tersebut. sudah tak terhitung lagi berapa masyarakat yang mengeluh pada Toba tentang perilaku anaknya namun ketika dinasehati oleh Toba, Samosir tetap bergeming.
Hingga suatu ketika Samosir diperintahkan oleh ibunya yang tak lain putri ikan untuk mengantarkan makanan ke sawah. Makanan tersebut dikirim untuk ayahnya yang sedang bekerja. Saat menuju ke sawah Samosir ternyata justru memakan bekal untuk ayahnya tersebut dan tertidur dibawah pohon. Di sisi lain ayahnya begitu kelaparan menunggu kiriman makanan dari Samosir, sampai dia tak tahan akan rasa laparnya. Akhirnya dia memutuskan pulang untuk makan, sampai di tengah jalan dia menemukan anaknya sedang tidur dengan bekal di sampingnya. Ketika dibangunkan Samosir mengaku telah memakan habis bekalnya dan tertidur disana. Alangkah marahnya Toba mendengar anaknya yang masih bersikukuh merasa dirinya benar. Hingga akhirnya tak sengaja dia melanggar sumpahnya dengan berujar bahwa Samosir adalah anak ikan.
Setelah berujar seperti maka langit tampak seperti marah dan menumpahkan hujan yang sangat lebat hingga menenggelamkan desanya. Putri ikan yang menyadari eksalahan suaminya hanya bisa tertunduk dan kembali menjadi ikan, sedangkan Samosir dikutuk oleh ayahnya sehingga menjadi pulau sedangkan Toba hanyut tenggelam terbawa arus dan akhirnya aliran sungai akibat hujan lebat itu menjadi sebuah danau yang ditangahnya terdapat pulau Samosir. Itulah legenda yang menjadi sejarah danau Toba.
Analisislah kaidah penggunaan bahasa teks Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir
Kaidah Kebahasaan Kutipan Keterangan
Menggunakan kalimat bermakna lampau.
Menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu.
Menggunakan kalimat tak langsung.
Menggunakan kata kerja (verba) mental
Menggunakan Kata Kerja (verba) Material
Menggunakan kalimat langsung
Menggunakan kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau peristiwa
M.Aditya.DavaUdin
BalasHapusXII IPS3
19
Hadir
Dina Oktavia Trisnawati
BalasHapusXII - IPS 1
12
M khoirur roziqin
BalasHapusXII IPS 1
23
Intan Uswatun khasanah
BalasHapus12 ips1
18
Dina Oktavia Trisnawati
BalasHapusXII IPS 1
12
Melysa firdiana
BalasHapusXII ips1
22
Dheany tsania
BalasHapusXII IPS 1
11
Muhammad Choirul Yasin
BalasHapusXII IPS 3
22
Cantika nadifa
BalasHapus12ips1
08
ASSALAMUALAIKUM WR WB
BalasHapusERSA KHAQKUL T
XII-AGAMA(9)
Assalamu'alaikum wr.wb
BalasHapusLuluk lidya zulfa
12 agama (12)
Siti Nur Diana
BalasHapusXII-Agama
23
M. Ziyad anshori
BalasHapusKls:XII ips2
16
friska anindya velntina
BalasHapusXII IPS3
10
Seila aulia firnanda
BalasHapusXII IPS 2
Wahyu deka s
BalasHapusXII ips3
Musagi nila ayu (19)
BalasHapusXII-Agama
Fariska eka wahyu nur khalimah
BalasHapusXII-Ips1
15
Muhamad Fajar Arifianto
BalasHapus20 XII IPS 3
Ahmad Faqih
BalasHapusXII IPS 3
04
Alvi sabilatunazidah
BalasHapusXll-ips3
05
Latifatu nur fadhilah
BalasHapusXii ips 1
20
Ahmad Febri Sudrajat
BalasHapusXII IPS 1
03
Ainur Rofiqoh
BalasHapusXII IPS 1
04
Amalia Safira Khoirunnisa'
BalasHapusXII IPS 1
O5
MOCHAMMAD.FACHRUDDIN
BalasHapusXII.IPS2
(15)
Siti Rahmawati
BalasHapusXll ips2
26
Fahroni Rahmat Yulianto
BalasHapusXll-ips 1
(14)
Ade Aprilia Suryaningtyas
BalasHapusXII IPS 1
02
Febriana fransisca
BalasHapusXII Ips 2
07
Roikhatul Jannah
BalasHapusXII IPS 2
22
Retno Oktavini
BalasHapus29
XII ips 1
Fimala Alvi Nur W.
BalasHapusXII IPS 1
16
Emmy Fauziah
BalasHapusXII IPS 1
13
Ika Amelia Kurniasari
BalasHapusXII IPS2
09
Rohmatin ika sugiarti XII IPS 2 (21)
BalasHapusAyu Nur Jannah (02)
BalasHapusXII Agama
icha vebyola XII ips3
BalasHapus(12)
ANGGIK ROLITA YUDA FIRANTI,XII IPS 1
BalasHapus(07)
M.Hafid Syahril (13)
BalasHapusXII Agama